Senin, 22 Maret 2010

wisata pulau merah by yanto




Matahari serasa berada tepat di atas ubun-ubun. Teriknya menyengat kulit. Tapi, keluarga Narto tak beranjak dari pantai Pulau Merah. Dengan kaki telanjang, Narto yang mengajak serta anak dan istrinya berkejar-kejaran dengan ombak. "Kalau kena air laut kaki tak terasa panas lagi," kata lelaki, asal Dusun Tegalsari, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi.





Bila keluarga Narto lebih senang menantang matahari, beda lagi dengan tiga keluarga yang memilih menikmati panorama laut dari pinggir pantai. Mereka duduk-duduk di batang pohon pandan duri yang memanjang sepanjang pantai. Daun pandan yang amat lebat, panjang menjulur, serasa menghalau panas. Yang terasa hanya semilir angin yang mendatangkan kantuk.

Angin laut di Pulau Merah memang agak kencang. Itu pula yang membuat gelombang laut yang masuk laut selatan itu relatif lebih tinggi, antara 4-5 meter. Dari jauh, gelombang laut itu menimbulkan gemuruh yang sangat keras.

Bertambah siang, pengunjung makin bertambah. Karena saat matahari menyengat itulah, keelokan pantai Pulau Merah seolah mencapai klimaksnya. Di tengah laut, tujuh bukit membentuk barisan. Dilengkapi juga dengan batu-batu karang berwarna kecoklatan. Salah satu bukit yang dekat dengan pantai menjulang sekitar ratusan meter dari permukaan laut. Bila tertimpa sinar, bukit ini berwarna kemerah-merahan. Dari bukit merah inilah, awal mula mengapa pantai di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran ini terkenal dengan nama Pulau Merah.

Bukit ini tanpa penghuni, kecuali pepohonan hutan. Namun bila musim penghujan tiba, warna bukit menghijau karena dedaunan pohon tumbuh dengan lebat.





Keelokan Pulau Merah serasa lengkap dengan warna pasir yang kekuningan. Tak ada sampah berserakan. Yang ada justru kerang-kerang berwarna-warni. Pengunjung biasanya langsung memunguti kerang untuk dibawa pulang.

Bagi Narto, kealamian Pulau Merah itulah yang menjadikan obyek wisata ini sangat menarik. "Pantai yang lain sudah tercemar tangan manusia," kata pria usia 35 tahun, yang saban bulan berekreasi ke Pulau Merah. Selain warga sekitar, Pulau Merah banyak dikunjungi warga dari lain kecamatan.

Tak hanya untuk bersantai, Pulau Merah kerap dijadikan tempat berselancar (surfing). Seperti yang dilakukan Sucipto, 25 tahun, peselancar professional yang siang itu berusaha menaklukan ombak Pulau Merah. Menurut Sucipto, ia mulai memindahkan hobinya berselancar dari Pulau Bali ke Pulau Merah, Banyuwangi. Bahkan, ia sering membawa turis dari Perancis, Jerman, dan Australia untuk menjajal surfing di Pulau Merah. Selain irit di ongkos karena tak ada kewajiban membayar, ombak Pulau Merah sangat cocok untuk peselancar pemula. “Turis mulai minat berselancar disini,” tutur Sucipto, yang sudah lima tahunan belajar surfing.

Lelaki asal Banyuwangi itu menuturkan, ombak di Pulau Merah yang cocok untuk berselancar masih jadi satu kesatuan dengan ombak di Plengkung, Banyuwangi. Plengkung yang menjadi pusat berselancar wisatawan asing yang banyak diminati selain Pulau Bali, katanya, semakin ramai. Tiketnya juga semakin mahal.

Karena itu, menurut Sucipto, dua tahun lalu ia berancang-ancang untuk mencari kawasan lain yang tidak kalah menarik dengan Plengkung. Rupanya pilihan itu jatuh di Pulau Merah.

Tentu saja aksi Sucipto ‘bermain-main’ dengan ombak di tengah lautan menjadi tontonan mengasyikkan bagi pengunjung lain. Begitu Sucipto naik ke pantai, ada saja pengunjung yang mengajaknya foto bersama.

Bila terasa lapar namun tak bawa bekal makanan, Anda boleh mencoba semangkuk bakso ‘Pulau Merah’ yang berdiri satu-satunya di kawasan itu. Rasanya memang sama dengan bakso kebanyakan. Evi Erlita Yunani, 28 tahun, si penjual mengatakan, warungnya hanya ramai pada hari Minggu atau hari libur saja. Sebab, diluar hari itu Pulau Merah nyaris sepi.”Tapi tiap hari saya selalu jualan,” katanya.

Evi adalah warga sekitar yang mencoba keberuntungan dengan berjualan di Pulau Merah. Menurutnya, sejak Tsunami melanda tahun 1993 lalu, obyek wisata ini nyaris tak pernah dikunjungi lagi. Pulau Merah baru dikunjungi warga dari luar desa sekitar tahun 2000-an.
Wisata ini memang belum terkelola. Karena itulah Pulau Merah tidak memiliki fasilitas pendukung. Pengunjung akan kesulitan menemukan toilet maupun Musholla. Bangunan toilet memang ada, namun menurut Evi, belum dilengkapi dengan air. Maklum, air di wilayah ini sangat sulit karena terletak di daerah kering. Untuk mendapatkan air, warga harus menggali sumur sedalam 25-30 meter.

Untuk mensiasati kebutuhan akan toilet dan Musholla, pengunjung bisa menampung di rumah warga yang berjarak sekitar 50 meter dari pantai. Umumnya warga akan bersedia menampung. Barangkali akan menjadi berbeda bila keelokan di Pulau Merah dilengkapi dengan fasilitas wisata. Tentu, pengunjung tak perlu kerepotan dan semakin bergairah berwisata ke Pulau Merah.




Keelokan Ditengah Ancaman Kerusakan Lingkungan

Pulau Merah, terletak sekitar 60 KM dari Kota Banyuwangi arah selatan. Untuk menjangkau obyek wisata ini membutuhkan perjuangan dan kesabaran tersendiri. Selain lamanya perjalanan yang membutuhkan waktu 2,5 jam, Anda harus menaklukan aspal rusak sepanjang jalan.





Alat transportasi umum pun tergolong jarang. Terlebih lagi bila tak punya kendaraan sendiri. Sebuah bus umum hanya mengantarkan Anda hingga ke Pasar Pesanggaran –sebuah Ibukota Kecamatan. Berikutnya, Anda bisa menyewa ojek yang biasa mangkal di pasar itu. Perjalanan masih butuh sekitar 30-45 menit untuk sampai di wisata Pulau Merah.

Pulau Merah, di kawasan pantai selatan menjadi salah satu kawasan yang masih terjaga. Sabuk hijau (green belt) melingkar sepanjang pantai, menjadi pengaman wilayah ini dari musibah Tsunami yang pernah menghajar 1993 lalu.

Sebagian kawasan Pulau Merah, sebelah utara, berada di kaki Gunung Tumpang Pitu. Gunung yang menjulang ratusan meter ini merupakan kawasan hutan lindung milik Perhutani. Tahun 2007 lalu, PT Indo Multi Niaga, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, mengajukan ijin untuk mengeksploitasi gunung ini. Diduga kuat, gunung ini menyimpan bijih emas puluhan ton.

Warga sekitar Pulau Merah dan Pancer, Desa Sumber Agung, berulangkali melakukan unjuk rasa menolak rencana penambangan. Bila jadi ditambang, warga khawatir keelokan Pulau Merah memudar. Artinya, tidak ada lagi wisata karena lingkungan jadi rusak. Nelayan Pancer juga resah limbah yang terbuang ke laut meracuni ikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar